Menjadi Orangtua dengan Jurus Layang-Layang

“Membesarkan anak itu Seperti menaikkan layang-layang….” Itulah ‘petuah’ penting yang saya dapat dari Rm. Andang Binawan, SJ, Sabtu siang kemarin, 12 Oktober 2013, di acara Seminar Sekolah Abdi Siswa Bintaro.

Kok seperti menaikkan layang-layang?

Harus ada angin

Rm. Andang mengingatkan, untuk bisa naik ke udara, layang-layang butuh angin. Sama seperti anak-anak kita, perjalannnya menuju manusia-manusia dewasa, tidak akan lepas dari ‘angin-angin’ kehidupan. Masalah dengan teman, paksaan-paksaan dari system sekolah, berhadapan dengan situasi berat yang membuatnya harus membuat keputusan, dan sebagainya. Itu adalah bagian dari proses anak-anak kita menjadi dewasa.

“Biarkan saja mereka kena angin, meliuk ke kanan dan ke kiri,” begitu pesan Rm. Andang.

Meski begitu, rm. Andang mengingatkan, di zaman yang serba teknologi ini, angin yang dihadapi anak-anak kita, bukan lagi angin sepoi-sepoi, jadi tentu tanggung jawab orang tua untuk “menerbangkan” anaknya, jadi lebih besar. “Teknologi, yang berkembang pesat sekarang ini, layaknya angin ribut untuk layang-layang kita,” ungkap Rm. Andang.

Harus ada benang

Dalam proses bermain layang-layang, tentu kita membutuhkan benang. Seutas benang kecil, panjang, yang menghubungkan kita, dengan layang-layang yang terbang tinggi itu. Begitu juga dalam proses kita membesarkan anak. Benang kecil itu serupa dengan tugas ita sebagai orang tua, yang harus menuntun langkah anak-anak kita di dunia ini, tapi tidak memaksa.

Begitu juga ketika anak-anak kita menghadapi masalah dalam kehidupannya, Rm. Andang mengingatkan kita sebagai orang tua, untuk memberi waktu kepada mereka, untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Semakin cepat orang tua turun tangan, pada segala masalah anak, anak tidak akan belajar, demikian menurut Rm. Andang.

“Biarkan layang-layang itu terbang bebas di alam terbuka, tapi tetap ada benang kecil yang kita pegang di tangan kita,” tukas Rm. Andang.

Harus ada proses tarik ulur

Layang-layang tak akan terbang dengan ‘mulus’, kalau kita melepas begitu saja benang di tangan kita. Begitu juga sebaliknya, ia tak akan terbang dengan benar kalau kita, sebagai “pemain  layang-layang’ tidak mau mengulur benang itu panjang-panjang…

Untuk poin ke tiga ini, Rm. Andang mengingatkan bagi Bapak dan Ibu, untuk kompak. “Kalau ibunya lagi narik, ya Bapaknya jangan ngulur. Begitu juga sebaliknya, kalau Bapaknya lagi ulur, Ibunya ya jangna narik-narik,” pungkas Rm. Andang.

Jadi, siap “nerbangin layang-layang” kita kah, everyone ???

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *