Memahami di Balik Kata “Aku enggak mau sekolah!!”

Kemampuan orangtua untuk  “membaca pikiran anak”, atau tepatnya membuat tebakan yang benar tentang apa yang dirasakan/dipikirkan anak itu perlu.

Kenapa? Karena dari pengalaman saya, anak kadangkala bahkan juga tidak tahu yang dia rasain itu apa, yang dia pikir apa. Atau, dia merasakan sesuatu, tapi susah mengungkapnya jadi kata-kata.

Jadi, gimana caranya biar tebakan kita selalu benar, terutama kalo anaknya sendiri juga enggak bisa memastikan apa sebenarnya yang dia pikirkan atau rasakan.

  1. Simpan banyak-banyak pengetahuan tentang anak kita

Di Mata Kuliah Psikologi Komunikasi yang saya ajarkan di kampus, ada beberapa faktor yang bisa mempengaruhi kecermatan persepsi kita. Apa itu persepsi? Persepsi itu cara kita menyimpulkan suatu peristiwa, pesan, atau pengalaman. Nah, salah satu faktor yang menentukan kecermatan kita mempersepsi sesuatu adalah pengetahuan.

Jadi, gimana caranya menyimpan pengetahuan tentang anak kita? Tentu dengan cara memberikan perhatian.

  • Perhatikan kesehariannya. Kalau bangun tidur biasanya suasana hatinya bagaimana? Kalau mau berangkat ke sekolah suasana hatinya biasanya gimana? Jam berapa dia biasanya minta makan, jam berapa kelihatan ngantuk dan butuh tidur, dst, dst.
  • Ketika dia cerita, sepulang sekolah, misalnya dengarkan apa ceritanya tentang teman-temannya, tentang gurunya, apa yang dia pikirkan tentang apa yang dilakukan temannya, apa yang dipikirkan tentang sesuatu yang dilakukan gurunya, dsb, dsb. Atau ketika dia mengomentari sesuatu. Dengarkan, ke arah mana pembicaraannya. Apa yang dia pikirkan tentang sesuatu yang dikomentari, dsb.
  • Baca buku, browsing internet, tanya-tanya orang yang ahli. Selain mengumpulkan informasi tentang anak kita sendiri, tentu kita juga mesti bayak-banyak mengumpulkan informasi tentang dunia anak dan parenting. Lewat buku, lewat pengalaman orang lain, misalnya. Tentang masalah apa yang biasa dihadapi anak, tentang cara mengatasinya ketika itu terjadi, dan sebagainya.

 

2. Amati ketika ada sesuatu yan tidak seperti hari-hari biasanya

Nah, kalau kita sudah punya semua informasi tentang anak kita, tentu akan lebih mudah buat kita, melihat ada sesuatu yang “tidak biasa” dari anak kita. Bahkan ketika dia belum ngomong ada apa.
Misalnya, biasanya acara berangkat ke sekolah enggak pernah ada masalah, lewat dengan lancar jaya, tapi kenapa pagi ini tumben-tumbenan, ya nih anak susah bener diajak bangun, mandi trus siap-siap? Nah, itu dia! TUMBEN. Itulah kata kuncinya. Ketika ada saat dia tumben, dia tidak biasa, maka kita perlu perhatikan lebih lanjut, ada apa.

Tentu saja, tidak semua peristiwa yang tidak biasa membawa kita pada sesuatu yang “serius” yang harus kita perhatikan pada anak kita. Kita yang orang dewasa kan juga bisa ya, tiba-tiba satu hari jadi orang galak sedunia tanpa sebab, atau lagi pengen males-malesan aja, tanpa alasan yang terlalu penting, atau lagi enggak mood aja melakukan sesuatu. Bisa jadi anak juga cuman lagi seperti itu.
Tentu kita perlu amati lebih jauh kalau perubahan perilaku itu berlangsng lama, dan sayangnya bukan perilaku yang kita harapkan berkembang dalam diri anak kita.

3. Tanyakan kepada anak, ada apa

Tentu, langkah selanjutnya ketika kita melihat ada yang tidak biasa adalah menanyakan ke anak. (Jangan langsung asal tebak sendiri ya.) Tentu harapannya adalah kita bisa segera mendapatkan jawaban yang jelas, “Aku hari ini males sekolah ah bu, badanku kok soalnya rasanya aneh ya. Agak pusing juga.”

Beruntunglah, kalau anak bisa menjawab degan jelas penyebab  masalahnya, sehingga kita langsung bisa memutuskan respons yang tepat.  Dan sebaliknya, PR kita jadi besar, kalau sudah jelas terlihat ada masalah, tapi anak kita bertahan dengan jawaban, “Pokoknya hari ini enggak mau sekolah!” Apalagi kalau terus dilanjut dengan nangis histeris luar biasa. Waduh!

Tenang…… tenang…. dalam segala situasi, kepanikan itu biasanya tidak menyelesaikan, tapi justru nambah ruwet masalah. Jadi… tenang… apa langkah selanjutnya?

4. Bandingkan dengan pengalaman kita sehari-hari

Kadang, tanpa kita sadari, anaklah yang justru akan membuat kita semakin mengenali diri kita sendiri. Dan semakin mengenal diri kita sendiri, sebenarnya adalah langkah bagus untuk makin mempertajam “keahlian” kita mengenali anak kita lebih jauh.

Jadi untuk menebak-nebak, apa sebenarnya yang dipikirkan atau dirasakan anak, kadangkala kita perlu mencarinya dalam diri saya sendiri. Situasi macam apa sih yang membuat saya enggak nyaman? Atau, kalau saya sedang berada dalam situasi yang serupa dengan anak saya ini, saya biasanya ngerasa gimana? Juga, dulu, kalau saya mengalami hal macam begini, respons saya gimana ya? Trus saya ngapain ya?
Begitulah kira-kira…

5. Putar ulang semua informasi yang kita punya

Nah, di tahap awal tadi kan kita sudah mengumpulkan banyak informasi tentang anak kita tuh. Juga mengumpulkan info ttg diri kita sendiri. Ini saatnya, “senjata” itu kita pakai.

Misalnya, eh, kemaren itu anak kita pernah cerita ada gurunya marah-marah di kelas karena ada temen yang jalan-jalan di kelas. Itu ceritanya hari apa ya? Guru yang marah itu ngajar apa ya? Hari ini, ada pelajaran itu enggak ya? ….

Sejujurnya, ini pernah terjadi pada anak saya, Lintang.
Ada suatu hari ketika Lintang cerita, di sekolah tadi ada guru yang marah, karena ada temennya yang jalan-jalan di kelas. Tentu saja yang dimarahi bukan Lintang. Enggak lah ya, Lintang kan anak baik, kalem, ramah, tidak sombong, sopan – persis seperti ibunya. Ehm.

Ketika dia menceritakan hal itu, tampaknya tidak ada suasana emosional yang berlebihan dalam ceritanya. Saya pun ingat untuk menegaskan, “Yang dimarahin bukan Lintang kan? Lintang enggak jalan-jalan di kelas kan? Jadi kalau ada guru marah, dan yang dimarahin bukan Lintang. Maka tenang aja, enggak perlu takut.” Dan cerita itu pun berlalu.

Tapi ternyata, sesuatu yang di hari lalu tampaknya cerita biasa aja, ternyata tersimpan dalam diri Lintang sebagai sesuatu yang enggak biasa, enggak membuat nyaman, dan membuatnya memutuskan, hari ini males sekolah – tanpa bisa menyebutkan, apa alasan sebenarnya yang membuat dia malas sekolah.

Sangat disayangkan memang, di  jaman seperti sekarang ini, saya masih sering dengar cerita bahwa masih ada guru yang marah di kelas dengan cara-cara masa lalu, seperti nggebrak meja pakai penggaris, anaknya diteriakin “kuran ajar”, atau disuruh keluar dari kelas.

Lagipula ini kan anak SD. Seberapa parah sih kekacauan yang bisa disebabkan anak SD? Wong saya aja di kampus pegang kelas anaknya udah gede-gede kumisan, sekelas isinya bisa 60 orang, yang kalo semuanya lagi enggak mood kuliah ya bisa bikin pusing kepala juga, tapi enggak pernah deh pake acara nggebrak meja.  Loh… loh.. lho.. kok jadi ngomel-ngomel sendiri. Maapkeun ya, biasa lah emak-emak, hehehe….

Tapi bisa dilihat, betapa kemarahan macam begitu efeknya besar kan ke anak. Itu aja bukan anak yang dimarahin, Cuma lihat gurunya marah, gimana efeknya ke anak yang memang jadi sasaran kemarahannya, coba?!

6. Ajak anak mengenali perasaan/pikirannya

Oke, balik lagi ke step by step jadi “Monster Pembaca Pikiran” yaa…
Setelah mengintip ke buku agenda Lintang, dan membandingkan dengan ceritanya kemarin-kemarin, benarlah ternyata hari itu ada guru yang pernah diceritakan Lintang marah-marah di kelas.

Tapi kan ini baru tebakan ya. Jangan langsung “menuduh” anak sesuai tebakan kita loh ya. Kalo tebakannya salah, malu nanti! Hehehe…. enggak Cuma malu sebenarnya, tapi bsia jadi, respons kita ke anak jadi salah, jadi enggak tepat sasaran.

Maka yang saya lakukan kemudian adalah mencoba mengajak Lintang mengenali, apa sebenarnya yang membuatnya malas ke sekolah. Benarkah malas sekolah?

Maka kemudian saya melihat ada pelajaran apa saja hari itu. Dan coba ajak Lintang mengungkap perasaannya tentang tiap-tiap pelajaran itu. “Wah hari ini ada nggambar ya, Tang. Kemarin Lintang dapet bintang waktu nggambar apa tuh Tang?” misalnya begitu. Kalau pancingan pertanyaan itu mendapat respons yang positif, misalnya lalu dia cerita seru tentang gambar yang dibuatnya. Atau bagaimana senangnya dia tahu cara mewarnai telur atau gelas sehingga bisa terlihat ada bagian yang mengkilap, misalnya, maka bisa dipastikan dia enggak masalah dengan pelajaran itu. Coba lagi dengan pelajaran-pelajaran lain hari itu. Untuk semua yang oke, maka kita bisa menambahkan kalimat penguat misalnya, “Wah, berarti asyik ya di sekolah itu!” atau…. “Seneng ya Lintang sama pelajaran ini…itu…”. Begitu misalnya.

Atau juga bisa ditambahkan, “kalau begitu, menurut ibu, Lintang bukan lagi males sekolah deh, itu buktinya banyak hal yang Lintang suka di sekolah. Pelajaran hari ini juga banyak yang Lintang senang,“ dan sebagainya.

Lalu, masuklah saya pada pelajaran yang saya duga sebagai sumber “masalah” hari ini.
Jadi, mungkin, ada sesuatu yang membuat Lintang enggak nyaman di sekolah hari ini kah?
Khawatir akan sesuatu?

Pertanyaan-pertanyaan macam begitu yang biasa saya gunakan untuk memancing jawaban dari Lintang. Meskipun seringkali, enggak akan ada keluar jawaban pasti, dan lagi-lagi, kita harus pintar-pintar “membaca pikiran” anak.

Dengan menggunakan kata “khawatir”, “enggak nyaman”, dan semacamnya itu sebenarnya adalah cara saya untuk mengenalkan berbagai perasaan kepada anak.

Jadi, alasannya ogah-ogahan ke sekolah itu bisa jadi bukan karena malas mengikuti kegiatan sekolahnya, tetapi karena ada hal-hal tertentu di sekolah yang membuat dia merasa tidak nyaman.

Beruntung kalau kemudian Lintang bisa memahami itu, dan kemudian menceritakan apa sebenarnya yang membuat tidak nyaman. Dan sekali lagi, kalau itu tidak terjadi, PR buat kitalah, orang tua, utuk membantunya mengenali, lewat acara menebak-nebak.

7. Pertahankan ketenangan, jangan nambah keriuhan.

Meskipun sejak awal saya sudah memfokuskan tebakan saya kepada 1 pelajaran hari ini, yang Lintang pernah cerita gurunya marah-marah di kelas, tapi tentu saja, saya enggak langsung to the point ke titik itu dong ya.

Alasannya, seperti yang saya sebut di atas, kalau asal tebak dan ternyata salah, enggak oke jadinya. Maka yang saya lakukan adalah menggali dulu kanan-kiri masalah itu, berharap lintang selama proses itu bisa menemukan sendiri bahkan mengungkap pokok masalahnya. Kalaupun enggak, ya enggak masalah, namanya juga anak kan ya? Orang dewasa pun belum tentu bisa mengenal sendiri masalah dalam dirinya kan ya?! Hehehe….

Maka di tahap mulai tebak-tebakan ini, ketenangan diri orang tua perlu dipertahankan. Jangan ikut-ikutan menunjukkan suasana bahwa ada “masalah”, ada “kekhawatiran” dan sebagainya, yang intinya bisa membuat suasana makin enggak nyaman buat anak.

Maka kemudian, yang saya lakukan adalah, dengan tetap pura-pura tenang (jelaslah pura-pura, karena otak saya lagi muter buat menemukan segala macam solusi biar dia bisa berangkat sekolah hari ini dengan semangat seperti biasa, jelas pura-pura tenang juga, karena ini pgi-pagi ya, tahu lah ya, kalo pagi itu jm kayanya jalan banter banget. Belom nyuruh dia mandi, pake seragam, sarapan, tiba-tiba jam udah setengah 7 aja! Udah waktunya berangkat).

Maka dengan ketenangan itu, saya buka lagi agenda Lintang, terus pura-pua juga baru lihat ada tulisan di situ, “Oh, hari ini ternyta ada pelajaran ini juga ya Tang? Ini pelajaran yang gurunya kemaren Lintang cerita begini bgini ama temen Lintang karena dia jalan-jalan di kelas bukan sih?”
Kalau jawabannya iya, maka saya teruskan dengan. “Oh…. mungkin, hari ini ini Lintang merasa enggak nyaman mau ke sekolah, karena ada guru ini, dan Lintang khawatir hari ini dia marah-marah lagi ya?”

Tentu kita berharap dia akan mengiyakan. Tapi sayangnya…. belum tentu! Hehehe… entah karena memang tebakan kita salah, atau, anak tidak mau mengakui kalau itu yang dirasakan, atau, karena memang anak belum merasa yakin dan tahu apa sebenarnya yang dia rasakan.

8. Beri “senjata” ke anak

Di tahap ketika tebakan kita tidak diiyakan oleh anak, maka biasanya saya meggunakan hati saya. Saya yakin, semua orang tua punya keterikatan yang sangat kuat dengan anaknya. Maka sebenarnya kita bisa merasa ini kayanya kenapa. Maka, kalau 85% lebih saya meyakini tebakan saya tepat, biasanya saya akan “membenahi” bagian itu.

Tentu saja, enggak perlu ngotot-ngototan, “Ah, pasti deh karena itu!”, atau yang lebih memaksa lagi, “Alah, ngaku aja, takut gurunya marah lagi kan?” enggak perlu! Buat saya, itu semakin mngecilkan hati anak. Kata “takut” yang kita tambahkan di kalimat itu, justru menambahkan nuansa emosional yang makin negatif. Itu kalau menurut saya sih.

Jadi yang saya lakukan adalah, tidak peduli itu penyebab masalah utama atau bukan, say aberi saja petunjuk atau cara-cara menghadapi situasi ketika si guru marah lagi.

Misalnya begini. “Oke, mungkin bukan karena itu sih Lintang enggak merasa nyaman di sekolah hari ini. Tapi, ibu mau kasih tau aja, kalau nanti guru itu marah-marah lagi ke temen Lintang, Lntang inget aja bahwa itu marahnya ke temen Lintang, bukan ke Lintang. Jadi, Lintang enggak perlu takut atau merasa ikutan dimarahin. Suara orang marah itu memang keras, kadang enggak nyaman telinga kita dengernya, memang begitu, tetapi inget aja lagi, suara keras itu bukan buat Lintang. Jadi tenang aja!”

Kalau tebakan kita benar, biasanya sih dengan kata-kata menenangkan mcam ini, kita bisa melihat ada ketenangan yang muncul juga dalam diri anak kita. Mesti enggak trus smangat berangkat sekolah lagi, tapi setidaknya, terlihat lebih tenang.

Kalau belum berhasil juga, maka cara selanjutnya bisa dipakai:

9. Alihkan fokus perhatian anak

Daripada terus-menerus mikirin kekhawatiran guru marah. (Perlu ingatkan juga, belum tentu hari ni gurunya marah lagi kan?!), maka baik juga kita mengalihkan perhatiannya.
Misalnya: bicarakan lagi pelajaran-pelajaran yan menyenangkan buat anak hari ini. “Kira-kira hari ini nggambar apa ya? Atau, “Kalau disuruh menggamba bebas, mau gambar apa nanti?” (kalau anak suka banget pelajaran nggambar, misalnya)

Atau, saya memberinya “tugas” untuk mengingatkan temannya, agar tidak jalan-jalan lagi waktu pelajaran ibu itu nanti, supaya ibu itu tidak marah-marah di kelas. Ada anak yang suka kala dipercaya atas tanggung jawab tertentu kan? Nah, jadi “pejabat yang berwenang” mengingatkan temannya untuk jadi anak baik, siapa tahu membuat anak lebih bersemangat? Kenapa tidak dicoba, kan!?

Kalau masih belum berhasil juga, pilihan terakhirnya adalah, cari sesuatu yang disenangi anak, dan kalau dijanjiin itu, maka kita bisa yakin, seharian dia akan menanti-nanti hal itu, yang tentu saja tujuannya, melupakan kekhawatirannya. Misalnya, “Eh, udah lama ya kita enggak makan warung yang ada jam besarnya  itu ya, Tang? (ini adalah warung makan tempat Lintang dan saya mampir sepulang jemput dia sekolah, kalo lagi pengen makan en ngobrol-ngobrol berdua ama Lintang. Hehehe… Tempatnya sepi – sebenernya tidak menguntungkan untuk penjual, tapi menguntungkan saya dan Lintang sebagai pembeli. Karena bisa ngobrol asik tanpa terganggu suara pengunjung lain, dan enggak perlu nunggu terlalu lama juga untuk dilayani). “Nanti siang, abis pulang sekolah, kita mampir situ yuk!”

Itu adalah beberapa tips dan trik yang pernah saya pakai. Kadang berhasil, kadang juga enggak sih, hehehe….. Maka kalau tidak berhasil, tipss terakhir ini perlu dilakukan:

10. Tahan emosi, Be creative!

Jadi orang tua itu menurut saya kaya sekolah. Isinya tiap hari belajar. Belajar menghadapi anak yang lagi seneng tanya ini-itu, belajar menghadapi anak yang lagi bad mood, belajar caranya ngajarin dia berbagi, belajar macem-macem! Dan untuk bisa menjalankan tugas itu, selain kita, orang tua mesti banyak belajar, mesti juga kreatif. Karena, anak itu unik. Yang dibilang orang tua lain, belum tentu pas kalau kita terapkan ke anak kita. Yang dibilang ratusan buku, belum tentu cocok kalau diaplikasikan ke pengalaman kita sendiri. Jadi, be creative!

Dan inget, tahan emosi. Ketika ada masalah, dan kita ikutan naik darah, bisa dipastikan emosi itu akan menambahkan keriuhan masalah, bukan menenangkannya. Intinya, kalau anak bilang malas sekolah, jangan langsung menuduhnya anak malas beneran, lalu keluarlah mantra panjang lebar, seperti: sekolah tuh mahal, kita udah keluar uang banyak buat bayar sekolah, kok cuma malas. mau jadi apa kamu kalau malas sekolah, bla…bla…bla…. Karena di balik kata malas sekolah itu, mungkin ada alasan lain yang perlu kita tahu, dan bahkan perlu kit awaspadai. seperti: apakah ada perlakuakn anak lain yang membuatnya tidak nyaman? atau bahkan perlakuakn orang dewasa di sekolah yang membuatnya tidak nyaman? atau apa… cari ulu akar masalahnya. Jangan masukkan emosi ke dalamnya.

Selamat belajar terus menjadi orang tua!!

oleh: Veronica Sri Utami, S.Psi., M.I.Kom

(ibu 2 anak, dosen komunikasi dan character building, penulis buku “We are Good Mothers” dan “Recharge Your Life”, certified hypnotherapist)

Menjadi Orangtua dengan Jurus Layang-Layang

“Membesarkan anak itu Seperti menaikkan layang-layang….” Itulah ‘petuah’ penting yang saya dapat dari Rm. Andang Binawan, SJ, Sabtu siang kemarin, 12 Oktober 2013, di acara Seminar Sekolah Abdi Siswa Bintaro.

Kok seperti menaikkan layang-layang?

Harus ada angin

Rm. Andang mengingatkan, untuk bisa naik ke udara, layang-layang butuh angin. Sama seperti anak-anak kita, perjalannnya menuju manusia-manusia dewasa, tidak akan lepas dari ‘angin-angin’ kehidupan. Masalah dengan teman, paksaan-paksaan dari system sekolah, berhadapan dengan situasi berat yang membuatnya harus membuat keputusan, dan sebagainya. Itu adalah bagian dari proses anak-anak kita menjadi dewasa.

“Biarkan saja mereka kena angin, meliuk ke kanan dan ke kiri,” begitu pesan Rm. Andang.

Meski begitu, rm. Andang mengingatkan, di zaman yang serba teknologi ini, angin yang dihadapi anak-anak kita, bukan lagi angin sepoi-sepoi, jadi tentu tanggung jawab orang tua untuk “menerbangkan” anaknya, jadi lebih besar. “Teknologi, yang berkembang pesat sekarang ini, layaknya angin ribut untuk layang-layang kita,” ungkap Rm. Andang.

Harus ada benang

Dalam proses bermain layang-layang, tentu kita membutuhkan benang. Seutas benang kecil, panjang, yang menghubungkan kita, dengan layang-layang yang terbang tinggi itu. Begitu juga dalam proses kita membesarkan anak. Benang kecil itu serupa dengan tugas ita sebagai orang tua, yang harus menuntun langkah anak-anak kita di dunia ini, tapi tidak memaksa.

Begitu juga ketika anak-anak kita menghadapi masalah dalam kehidupannya, Rm. Andang mengingatkan kita sebagai orang tua, untuk memberi waktu kepada mereka, untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Semakin cepat orang tua turun tangan, pada segala masalah anak, anak tidak akan belajar, demikian menurut Rm. Andang.

“Biarkan layang-layang itu terbang bebas di alam terbuka, tapi tetap ada benang kecil yang kita pegang di tangan kita,” tukas Rm. Andang.

Harus ada proses tarik ulur

Layang-layang tak akan terbang dengan ‘mulus’, kalau kita melepas begitu saja benang di tangan kita. Begitu juga sebaliknya, ia tak akan terbang dengan benar kalau kita, sebagai “pemain  layang-layang’ tidak mau mengulur benang itu panjang-panjang…

Untuk poin ke tiga ini, Rm. Andang mengingatkan bagi Bapak dan Ibu, untuk kompak. “Kalau ibunya lagi narik, ya Bapaknya jangan ngulur. Begitu juga sebaliknya, kalau Bapaknya lagi ulur, Ibunya ya jangna narik-narik,” pungkas Rm. Andang.

Jadi, siap “nerbangin layang-layang” kita kah, everyone ???

Langkah-Langkah Mengaplikasikan Positive Parenting

sumber foto: freepik



“Enggak masalah anak kita kurang begini atau begitu, tapi yang kita perhatikan jangan kekurangannya, justru kita harus menggali, anak saya potensinya apa,” demikian dikatakan Ibu Agnes Indar Etikawati, MSi., Psi., pembicara dalam Workshop bertema “Positive Parenting dalam Tumbuh Kembang Anak. “di acara Open House Mommy’s Bestie Daycare – sebuah tempat penitipan anak di daerah Tangerang Selatan,

 Kata-kata awal Ibu Agnes itu yang adalah seorang psikolog dan dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, terasa cukup membuka mata, tentang menjadi orang tua yang positif. Yang bahkan dimulai dari cara memandang anak kita pun, harus lewat sudut pandang yang positif.

“Positive parenting harus dimulai dari cara kita memandang anak, lewat sudut pandang yang positif.”


Agnes tidak menampik, bahwa tiap anak memiliki temperamen, yaitu sifat yang merupakan bawaan, dan lebih banyak berhubungan dengan faktor genetik. “Jangan terpaku pada apa yang sudah terberi atau ditetapkan. Kita harus terus maju,” demikian sarannya. Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membuat target perilaku untuk dikembangkan anak, sekaligus rencana strategi untuk mengajarkan hal tersebut.

Berikut adalah langkah-langkah mengaplikasikan positive parenting.

1. Pelajari kebutuhan perkembangan dan psikologis anak

Setiap tingkatan usia, ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh seorang anak. “Anak umur dua tahun, seharusnya sudah bisa mengucapkan kata yang memang bermakna. Kalau ia mengucap minum, itu memang dalam rangka minta minum,” contohnya.  Jadi, catat karakter dan perkembangan positif anak sesuai usia.

2. Tentukan target perilaku yang akan ditingkatkan

Agnes sekali lagi mengingatkan, “Fokuslah pada solusi. Yang kita inginkan bukan menghilangkan sesuatu dari si anak, tapi kita mau meningkatkan apa.” Ia mencontohkan,   “Jangan tulis ‘ingin menghilangkan rasa malu anak’, tapi ‘meningkatkan kepercayaan diri’. Atau, bukan ‘menghilangkan kebiasaan anak main gadget’, tapi meningkatkan kemampuan anak dalam mengatur waktunya’.”
 “Kita juga tidak perlu terlalu idealis, ingin meningkatkan macam-macam. Satu-satu saja,” pesan Agnes.

3. Rencanakan strategi

Untuk membuat strategi peningkatan kemampuan anak, Agnes memaparkan beberapa hal penting:

  • ·       Pentingnya modeling/contoh

“Kalau anaknya susah bicara, lihat dulu bapak-ibunya seperti apa. Kalau bapaknya biasanya pendiam, ya harus memberi contoh untuk lebih ekspresif!” kata Agnes.
·       
  •      Pastikan tidak ada stimulasi fisiologis yang membuat perilaku negatif muncul

“Pastkan anak tidur cukup, makan cukup, nutrisi cukup, tidak sedang kena alergi sesuatu,” terangnya.

  • ·       Pastikan tidak ada stimulasi psikologis yang memancing perilaku negatif muncul

“Kalau menanyakan sesuatu ke anak, ibu-ibu harus pakai nada suara yang enak, jangan seperti kaya ngajak berantem!” kata Agnes. Ia mengingatkan bahwa rumah bukan saja tempat belajar bagi anak, tapi juga tempat mendapat kasih saying. “Kasih saying ini sangat penting. Anak sudah capek dengan segala kegiatannya di luar. Jangan sampai di rumah dia stress!” tegas Agnes.

  • ·       Setting lingkungan

“Pengen anaknya nggak main gadget setiap waktu, tapi ada HP, tablet, laptop bertebaran di mana-mana. Ya nggak bisa berhasil!” contoh Agnes.

  • ·       Rule/peraturan harus diberlakukan juga ke orang tua

“Kita menyuruh anak belajar, tapi di waktu yang sama orang tuanya malah main-main. Itu tidak memotivasi anak,” terang Agnes. “Ya orang tua ikut melakukan sesuatu yang serius lah. Baca buku atau pura-pura mengerjakan sesuatu di laptop,” usulnya.

  • ·       Rekreasi itu penting!

“Anak bisa jadi malas melakukan sesuatu karena dia merasa hidupnya begitu-begitu saja, membosankan,” kata Agnes. Karena itu, ia menekankan pentingnya rekreasi. “Ta[I rekreasi enggak perlu mahal ya. Bahkan bisa kita hubungkan dengan apa yang dipelajari anak di sekolah. “Kalau sedang belajar tentang pemerintahan, ajak ke kantor kelurahan misalnya, lihat ruangan apa saja yang ada. Atau kalau sedang pelajaran aama di iNdonesia, ajak ke Pura atau Wihara,” usul Agnes.


4. Berlakukan reward

Setiap capaian anak, perlu diapresiasi dengan reward. Meski demikian, Agnes mengingatkan, reward  tak harus berupa barang, atau sesuatu yang besar dan mahal. “Bisa dengan memberikan laporan positif ke ayahnya, di depan anak, misalnya ‘ Tuh Yah, adek hari ini pinter loh! Udah bisa ini – itu’,” kata Agnes memberi contoh. Hal semacam itu pun sudah bisa dikatakan sebagai reward.
Tentu saja, meskipun kita sudah mengikuti step by step menjadi orang tua yang positif, tidak selalu berarti perubahan akan segera terjadi. Karenanya, Agnes mengingatkan orang tua untuk sabar. “Menjadi orang tua yang sabar itu tidak berarti lalu anak dibiarkan saja ya…,” ingatnya, “”Sabar itu lebih kepada kemampuan orang tua untuk mengelola dirinya sendiri, terutama berkaitan dengan mengelola emosi,” terang Agnes.

Jadi, siap praktek jadi orang tua positif? Selamat mencoba….dan ingat untuk sabar ya! 

Free e-book “Happy Moms for Happy Kids”

Temukan tips untuk BAHAGIA bagi para ibu,  
(dan Bapak juga sih sebenarnya…)
karena ibu yang bahagia akan punya banyak CINTA untuk anak-anaknya.

Tapi…..

ketika ada tumpukan cucian dan setrikaan,
rumah berantakan,
anak rewel atau tak mau makan,
belum lagi deadline pekerjaan……


Mana sempat bahagia?? 
Mungkin itu pertanyaannya.
 Nah, temukan jawabannya di buku ini,

 “Happy Moms for Happy Kids”



Kami berikan GRATIS! 
sebagai hadiah dari  Kumpul Bocah untuk para ibu


Cukup isi form di bawah ini, 
dan e-booknya akan dikirim ke email Anda!

From Kumpul Bocah, with full of Love…



I love you, you love me, we are happy family…. 

Di bulan penuh kasih sayang ini, Kumpul Bocah pun berbagi kasih sayang lewat cokelat-cokelat cantik ini, utk semua member of Kumpul Bocah’s happy family. 😊😊😊

Pengin tahu lbh banyak ttg Kumpul Bocah? Yuk mampir ke tempat kami, di Graha Bintaro blok GR X no.1 atau tlp ke 021- 93964552 atau email ke kumpulbocahbintaro@gmail.com

Video Game Bikin Otak Anak jadi Tumpul! Benarkah?

Siapa yang tak kenal video games? Mulai dari anak-anak sampai orang tua pasti mengenalnya. Apalagi, sekarang makin banyak piranti yang memungkinkan setiap orang memainkannya.

Tapi, hati-hati, karena penelitian Ryuta Kawashima, professor di Tohoku University Jepang menemukan bahwa bermain video games secara terus-menerus bisa memperlambat perkembangan otak. 

Hal ini terjadi karena kegiatan bermain game hanya menggunakan sebagian orak saja, yaitu yang berkaitan dengan vision dan movement saja. Sementara bagian frontal lobe dari otak yang sangat penting dalam proses belajar – control perilaku, daya ingat, emosi, dan kemampuan belajar – tidak terstimulasi.

Meski banyak ahli mengatakan sisi negative bermain video game, khususnya pada anak-anak – misalnya munculnya kekerasan, karena anak dengan mudahnya meniru adegan-adegan dalam game tersebut – banyak juga yang mengungkap bahwa video game bisa meningkatkan kreativitas, bahkan kecerdasan seseorang.

Seperti komentar Adinda, ibu seorang anak. “anak saya sekarang lagi seneng main game Angry Birds di laptop. Tadinya saya khawatir dia bakal kecanduan, tapi saya lihat, dia justru makin pintar mengukur posisi dan strategi untuk menjatuhkan target burung-burung itu. Dia malah sering ngajarin saya main loh!” cerita Adinda sedikit bangga.

Karenanya, kuncinya tentu saja, main video game secukupnya saja, tidak berlebihan. Bagi orang tua tentu juga wajib memberikan pengawasan kepada anak-anaknya, khususnya terhadap jenis game yang dimainkan oleh si anak. 

– dari berbagai sumber –  

———————————————————————————————–

Kumpul Bocah adalah tempat yang menyediakan kesempatan bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minat mereka.
Kumpul Bocah menyediakan aneka kegiatan, seperti: kelas menggambar, kelas art and craft, kelas bahasa Inggris, kelas Bimbel, Kelas Calistung, dan Kelas Musik, yang terdiri dari Kelas Piano, Biola, dan Gitar.

Untuk informasi dan pendaftaran, silakan hubungi Kumpul Bocah – Kids and Teens Center di kumpulbocahbintaro@gmail.com atau
 telepon: (021)-93964552 
HP: 081288562559

Pin BB: 5D3DOE26

Membesarkan Anak Pakai “Ilmu Layang-Layang”

“Membesarkan anak itu Seperti menaikkan layang-layang….” Itulah ‘petuah’ penting yang saya dapat dari Rm. Andang Binawan, SJ, Sabtu siang kemarin, 12 Oktober 2013, di acara Seminar Sekolah Abdi Siswa Bintaro.
Kok seperti menaikkan layang-layang?
Harus ada angin
Rm. Andang mengingatkan, untuk bisa naik ke udara, layang-layang butuh angin. Sama seperti anak-anak kita, perjalannnya menuju manusia-manusia dewasa, tidak akan lepas dari ‘angin-angin’ kehidupan. Masalah dengan teman, paksaan-paksaan dari system sekolah, berhadapan dengan situasi berat yang membuatnya harus membuat keputusan, dan sebagainya. Itu adalah bagian dari proses anak-anak kita menjadi dewasa.
“Biarkan saja mereka kena angin, meliuk ke kanan dan ke kiri,” begitu pesan Rm. Andang.
Meski begitu, rm. Andang mengingatkan, di zaman yang serba teknologi ini, angin yang dihadapi anak-anak kita, bukan lagi angin sepoi-sepoi, jadi tentu tanggung jawab orang tua untuk “menerbangkan” anaknya, jadi lebih besar. “Teknologi, yang berkembang pesat sekarang ini, layaknya angin ribut untuk layang-layang kita,” ungkap Rm. Andang.
Harus ada benang
Dalam proses bermain layang-layang, tentu kita membutuhkan benang. Seutas benang kecil, panjang, yang menghubungkan kita, dengan layang-layang yang terbang tinggi itu. Begitu juga dalam proses kita membesarkan anak. Benang kecil itu serupa dengan tugas ita sebagai orang tua, yang harus menuntun langkah anak-anak kita di dunia ini, tapi tidak memaksa.  
Begitu juga ketika anak-anak kita menghadapi masalah dalam kehidupannya, Rm. Andang mengingatkan kita sebagai orang tua, untuk memberi waktu kepada mereka, untuk menyelesaikan masalahnya sendiri. Semakin cepat orang tua turun tangan, pada segala masalah anak, anak tidak akan belajar, demikian menurut Rm. Andang.
“Biarkan layang-layang itu terbang bebas di alam terbuka, tapi tetap ada benang kecil yang kita pegang di tangan kita,” tukas Rm. Andang.
Harus ada proses tarik ulur
Layang-layang tak akan terbang dengan ‘mulus’, kalau kita melepas begitu saja benang di tangan kita. Begitu juga sebaliknya, ia tak akan terbang dengan benar kalau kita, sebagai “pemain  layang-layang’ tidak mau mengulur benang itu panjang-panjang…
Untuk poin ke tiga ini, Rm. Andang mengingatkan bagi Bapak dan Ibu, untuk kompak. “Kalau ibunya lagi narik, ya Bapaknya jangan ngulur. Begitu juga sebaliknya, kalau Bapaknya lagi ulur, Ibunya ya jangna narik-narik,” pungkas Rm. Andang.
Jadi, siap “nerbangin layang-layang” kita kah, everyone ???
By: Vera Susilo

—————————————————————————————————-

Kumpul Bocah adalah tempat yang menyediakan kesempatan bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minat mereka.
Kumpul Bocah menyediakan aneka kegiatan, seperti: kelas menggambar, kelas art and craft, kelas bahasa Inggris, kelas Bimbel, Kelas Calistung, dan Kelas Musik, yang terdiri dari Kelas Piano, Biola, dan Gitar.

Untuk informasi dan pendaftaran, silakan hubungi Kumpul Bocah – Kids and Teens Center di kumpulbocahbintaro@gmail.com atau
 telepon: (021)-93964552 
HP: 081288562559
Pin BB: 5D3DOE26

8 Jenis MULTIPLE INTELLIGENCE menurut Howard Hardner

MULTIPLE INTELLIGENCE menurut Howard Gardner:
– linguistic intelligence (berbahasa)
– logical-mathematical intelligence (logika matematika)
– spatial intelligence (bentuk dan ruang)
– bodily-kinesthetic intelligence (gerak tubuh)
– musical intelligence (musik)
– interpersonal intelligence (hubungan dengan orang lain)
– intrapersonal intelligence (pemahaman atas diri sendiri)
– naturalist intelligence (berhubungan dengan alam)

~~~~~~~~~~~~~~~~~

Kumpul Bocah adalah tempat yang menyediakan kesempatan bagi anak untuk tumbuh dan berkembang sesuai bakat dan minat mereka.
Kumpul Bocah menyediakan aneka kegiatan, seperti: kelas menggambar, kelas art and craft, kelas bahasa Inggris, kelas Bimbel, Kelas Calistung, dan Kelas Musik, yang terdiri dari Kelas Piano, Biola, dan Gitar.

Untuk informasi dan pendaftaran, silakan hubungi Kumpul Bocah – Kids and Teens Center di kumpulbocahbintaro@gmail.com.