Langkah-Langkah Mengaplikasikan Positive Parenting

sumber foto: freepik



“Enggak masalah anak kita kurang begini atau begitu, tapi yang kita perhatikan jangan kekurangannya, justru kita harus menggali, anak saya potensinya apa,” demikian dikatakan Ibu Agnes Indar Etikawati, MSi., Psi., pembicara dalam Workshop bertema “Positive Parenting dalam Tumbuh Kembang Anak. “di acara Open House Mommy’s Bestie Daycare – sebuah tempat penitipan anak di daerah Tangerang Selatan,

 Kata-kata awal Ibu Agnes itu yang adalah seorang psikolog dan dosen di Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, terasa cukup membuka mata, tentang menjadi orang tua yang positif. Yang bahkan dimulai dari cara memandang anak kita pun, harus lewat sudut pandang yang positif.

“Positive parenting harus dimulai dari cara kita memandang anak, lewat sudut pandang yang positif.”


Agnes tidak menampik, bahwa tiap anak memiliki temperamen, yaitu sifat yang merupakan bawaan, dan lebih banyak berhubungan dengan faktor genetik. “Jangan terpaku pada apa yang sudah terberi atau ditetapkan. Kita harus terus maju,” demikian sarannya. Yang perlu dilakukan oleh orang tua adalah membuat target perilaku untuk dikembangkan anak, sekaligus rencana strategi untuk mengajarkan hal tersebut.

Berikut adalah langkah-langkah mengaplikasikan positive parenting.

1. Pelajari kebutuhan perkembangan dan psikologis anak

Setiap tingkatan usia, ada tugas perkembangan yang harus dipenuhi oleh seorang anak. “Anak umur dua tahun, seharusnya sudah bisa mengucapkan kata yang memang bermakna. Kalau ia mengucap minum, itu memang dalam rangka minta minum,” contohnya.  Jadi, catat karakter dan perkembangan positif anak sesuai usia.

2. Tentukan target perilaku yang akan ditingkatkan

Agnes sekali lagi mengingatkan, “Fokuslah pada solusi. Yang kita inginkan bukan menghilangkan sesuatu dari si anak, tapi kita mau meningkatkan apa.” Ia mencontohkan,   “Jangan tulis ‘ingin menghilangkan rasa malu anak’, tapi ‘meningkatkan kepercayaan diri’. Atau, bukan ‘menghilangkan kebiasaan anak main gadget’, tapi meningkatkan kemampuan anak dalam mengatur waktunya’.”
 “Kita juga tidak perlu terlalu idealis, ingin meningkatkan macam-macam. Satu-satu saja,” pesan Agnes.

3. Rencanakan strategi

Untuk membuat strategi peningkatan kemampuan anak, Agnes memaparkan beberapa hal penting:

  • ·       Pentingnya modeling/contoh

“Kalau anaknya susah bicara, lihat dulu bapak-ibunya seperti apa. Kalau bapaknya biasanya pendiam, ya harus memberi contoh untuk lebih ekspresif!” kata Agnes.
·       
  •      Pastikan tidak ada stimulasi fisiologis yang membuat perilaku negatif muncul

“Pastkan anak tidur cukup, makan cukup, nutrisi cukup, tidak sedang kena alergi sesuatu,” terangnya.

  • ·       Pastikan tidak ada stimulasi psikologis yang memancing perilaku negatif muncul

“Kalau menanyakan sesuatu ke anak, ibu-ibu harus pakai nada suara yang enak, jangan seperti kaya ngajak berantem!” kata Agnes. Ia mengingatkan bahwa rumah bukan saja tempat belajar bagi anak, tapi juga tempat mendapat kasih saying. “Kasih saying ini sangat penting. Anak sudah capek dengan segala kegiatannya di luar. Jangan sampai di rumah dia stress!” tegas Agnes.

  • ·       Setting lingkungan

“Pengen anaknya nggak main gadget setiap waktu, tapi ada HP, tablet, laptop bertebaran di mana-mana. Ya nggak bisa berhasil!” contoh Agnes.

  • ·       Rule/peraturan harus diberlakukan juga ke orang tua

“Kita menyuruh anak belajar, tapi di waktu yang sama orang tuanya malah main-main. Itu tidak memotivasi anak,” terang Agnes. “Ya orang tua ikut melakukan sesuatu yang serius lah. Baca buku atau pura-pura mengerjakan sesuatu di laptop,” usulnya.

  • ·       Rekreasi itu penting!

“Anak bisa jadi malas melakukan sesuatu karena dia merasa hidupnya begitu-begitu saja, membosankan,” kata Agnes. Karena itu, ia menekankan pentingnya rekreasi. “Ta[I rekreasi enggak perlu mahal ya. Bahkan bisa kita hubungkan dengan apa yang dipelajari anak di sekolah. “Kalau sedang belajar tentang pemerintahan, ajak ke kantor kelurahan misalnya, lihat ruangan apa saja yang ada. Atau kalau sedang pelajaran aama di iNdonesia, ajak ke Pura atau Wihara,” usul Agnes.


4. Berlakukan reward

Setiap capaian anak, perlu diapresiasi dengan reward. Meski demikian, Agnes mengingatkan, reward  tak harus berupa barang, atau sesuatu yang besar dan mahal. “Bisa dengan memberikan laporan positif ke ayahnya, di depan anak, misalnya ‘ Tuh Yah, adek hari ini pinter loh! Udah bisa ini – itu’,” kata Agnes memberi contoh. Hal semacam itu pun sudah bisa dikatakan sebagai reward.
Tentu saja, meskipun kita sudah mengikuti step by step menjadi orang tua yang positif, tidak selalu berarti perubahan akan segera terjadi. Karenanya, Agnes mengingatkan orang tua untuk sabar. “Menjadi orang tua yang sabar itu tidak berarti lalu anak dibiarkan saja ya…,” ingatnya, “”Sabar itu lebih kepada kemampuan orang tua untuk mengelola dirinya sendiri, terutama berkaitan dengan mengelola emosi,” terang Agnes.

Jadi, siap praktek jadi orang tua positif? Selamat mencoba….dan ingat untuk sabar ya! 

Free e-book “Happy Moms for Happy Kids”

Temukan tips untuk BAHAGIA bagi para ibu,  
(dan Bapak juga sih sebenarnya…)
karena ibu yang bahagia akan punya banyak CINTA untuk anak-anaknya.

Tapi…..

ketika ada tumpukan cucian dan setrikaan,
rumah berantakan,
anak rewel atau tak mau makan,
belum lagi deadline pekerjaan……


Mana sempat bahagia?? 
Mungkin itu pertanyaannya.
 Nah, temukan jawabannya di buku ini,

 “Happy Moms for Happy Kids”



Kami berikan GRATIS! 
sebagai hadiah dari  Kumpul Bocah untuk para ibu


Cukup isi form di bawah ini, 
dan e-booknya akan dikirim ke email Anda!

From Kumpul Bocah, with full of Love…



I love you, you love me, we are happy family…. 

Di bulan penuh kasih sayang ini, Kumpul Bocah pun berbagi kasih sayang lewat cokelat-cokelat cantik ini, utk semua member of Kumpul Bocah’s happy family. 😊😊😊

Pengin tahu lbh banyak ttg Kumpul Bocah? Yuk mampir ke tempat kami, di Graha Bintaro blok GR X no.1 atau tlp ke 021- 93964552 atau email ke kumpulbocahbintaro@gmail.com